Friday, March 23, 2007

horen, lusiteren mijn jammer, erg slechts…


Entah mengapa banyak sekali orang senang berbicara, berkomentar dan berkata-kata atas apa yang tertangkap mata, hidung atau kuping (terutama yang satu ini). Meskipun akhirnya salah berucap pun, tetap saja merasa puas, yang penting bicara!

Apa karena bicara adalah salah satu bentuk eksistensi paling mudah? bisa dilakukan asal saja, tinggal bla...bla...bla.. pun jadi.

Teriak-teriak dalam ruangan juga oke saja, asal mampu memenuhi nafsu bicara, hah! konyol sekali!

Kecenderungan bicara dan tidak mendengar, bisa jadi karena mendengarkan itu sulit, butuh konsentrasi dan kesabaran.

Mungkin kemudahan memang lebih disukai, memilih melihat hasil dibandingkan usaha yang mendahului hasil tersebut. Bicara jelas lebih terlihat hasilnya:kata-kata yang berhamburan yang merangkum diri kita, dengar! diri kita (garis bawah)

peduli apa dengan isinya bukan?

sedangkan mendengar? (huruf tebal) itu soal orang lain-tidak berhubungan dengan diri kita:ehm... itu kan milik orang lain, apa pentingnya untuk kita.

naru hodo, itu sebabnya, begitu sulitnya menemukan orang yang benar-benar mendengar:menghayati dan mencermati.

Wednesday, March 21, 2007

menunggumu

malam tadi ada sebuah penolakan yang membekas pada mimpiku, pedih dan menyakitkan, penuh amarah dan kekecewaan, pagi ini, kucuran air jeruk purut seperti dibubuhkan pada luka itu, padahal aku belum benar-benar bangun dan beranjak dari tidurku, dua rasa nyeri di ulu ati membuatku teringat-ingat pada suatu waktu

dulu, moment saat aku mengucap mantra soal satu keinginan, yang kueja hati-hati sekali pada suatu pagi yang benar pagi-pagi, sekeluar aku dari sebuah lift sempit yang di kelilingi kaca, yang membuat aku dapat leluasa menikmati pantulanku dan lalu menemukan sesuatu yang hilang dalam hitungan sekon-sekon terkecil dalam hari-hariku, bersama ingatan akan sebuah lagu masa kuliah, masa militan sebagai penikmat musik indie kampus,

"kutunggu dirimu, sampai aku ketiduran, kumimpi dikejar kunang-kunang..."

aku sudah menunggu, itu aku tahu. tapi aku baru sadar bahwa yang kutunggu bukan apa yang selama ini kukira. jauh di dalam hatiku yang tanpa dasar, aku menunggu. dirimu.

dirimu, tanpa nama, tanpa wujud fisik yang jelas dan tanpa kutahu apakah kau berkacamata atau tidak. apakah rambutmu lurus atau sama bergelombang dengan rambutku. lalu warna apa yang menyebar dikulitmu hitam atau putih....

tapi dirimu, telah ada sejak dulu… dalam kejaran angin malam yang menusuk-nusuk pinus pengantuk di ujung bukit itu, juga pada sebuah dongeng bacaan rebahanku setiap malam yang tak perlu penjelasan rasional, atau dalam bunga yang tercipta kumpulan tetesan air hujan dengan gradasi merah jambu yang menyebar wangi kembang gula…

kutulis bukan pagi ini (^.^)


dari paradamar (http://www.friendster.com/user.php?uid=34607791):
Menunggu adalah sesuatu yang indah!!dalam menunggu kita bisa melakukan apa saja yang kita ingini,menari dalam rebahan napas panjang seolah dorongan dari dalam yang tergesa gesa keluar hingga meliukkan tubuh dan menjadi tarian yang indah...Menulis tentang dunia melalui dorongan jari jari yang tak pernah belajar menuliskan sesuatu yang indah,tapi kini mampu meluapkan rasa yang tersembuyi...kekuatan dalam penantian adalah kekuatan dahsyat bila kita mampu SADAR..

Thursday, March 15, 2007

berhenti untuk matahari

pagi hari yang mengembun di ujung selimutku kerap membuatku mencari matahari

dingin meruap...

ah matahari apa sih, masih ada kayu bakar dan kompor kok, biar saja matahari dengan tidur panjangnya, berjongkok di seberang mendung...

ah matahari apa sih

(di akhir pekan maret yang aneh)


ini pasti karena pil-pil kecil ituw!!!

Monday, February 19, 2007

Sepeninggal Lupa


sepeninggal lupa
lalu kau merangkak
berputar di beranda
dan menuruni setapak
bergerak lurus
menghabisi kelokan
tidak berhenti
kau lanjutkan ke kiri
menanjak miring
memandang sekitar
berpikir bingung
tak tahu harus kemana
peta tertinggal
matahari terbenam
bintang tak terbaca
arah mana
kepalamu kosong
kemudian...
tak tahulah
tak jelas:
sepeninggal lupa

2006

Thursday, February 15, 2007

Diménsï waktûmü dan kú


Dimensi waktumu dan ku begitu dekat, bahkan mungkin, pada saat perjalanan pulang ini aku melewati langkahmu yang cepat-cepat mengukur aspal trotoar. Tapi sekarang hati kita begitu jauh sayang, sehingga lariku pun melaju kencang, melewatkan saat-saat ketika kita masih bisa berdamai dengan sore hari, tanpa harus kelelahan pulang kerja, dan berdesakan dengan macet yang menghimpit sempit.

Kau ingat dimensi waktu kita dulu?

Kau di selatan dan aku di utara, melewati tiga aliran sungai kita mondar-mandir mencoret muka jalanan dengan jejak kaki dan roda-roda motor tumpangan, aku tahu saat itu kau sering melukisku dalam kesadaran yang fana, juga kerap kali tiba-tiba kau memotretku dalam tiga kedipan matamu. Semua aku buatkan album dalam nukilan-nukilan syaraf otakku yang bermemori rapuh dan jauh dari keabadian.

Hingga sayang, aku mulai melupakanmu...

Satu, dua, tiga, aku Cuma punya satu momen tak lengkap untuk mengingatmu, bisakah itu ditebus dengan perasaan sesal?
Kenapa dulu tidak simpan lebih rapi lukisan-lukisanmu, lalu kusatukan dengan foto-foto jepretanmu, lalu kuatur dengan klasifikasi dewey agar mudah menemukannya kembali saat diperlukan.

Ah! Aku terlalu sibuk untuk menolakmu masuk dalam waktuku. Aku bahkan menyiram lebih sering dan memupuk lebih banyak pagar tanaman jiwaku, hanya sekedar untuk memastikannya cukup tinggi agar tidak dapat kau lewati. Hingga akhirnya aku justru kehilangan makna.

Sayangku, aku sudah hampir sampai, di mana kau? Kemana saja selama ini? bahkan untuk mensejajari langkahku pun kau sudah menyerah.

2006

MâŔriağeáblё
....the book where I trap on



Berwaktu-waktu kemarin aku membuka tahun 2006 bersama sebuah pertemuan bagus dengan MâŔriağeáblё, book where I trap on (^.^)

At first, I thought the excitement in reading this borrowed book is because the kind of similar story with my favorite serial television, but then it catches me with abundant of hilarious feeling in enjoying the choice of words and the typical way of thinking.

Color of life in this time Riri Sardjono down to earth creation of “love story” is amaze me, and make me think: to have someone in our life is not always beautiful, but we will more regret things what we don't do than what we do right? so marriage is just another way what I should try, why not? (^o^)

Great story, thanks to Rahma. So it’s true, first impression doesn't always right.

Nukilan from back cover:

Check this sentence...

“Kenapa, sih, gue jadi nggak normal cuma gara-gara gue belom kawin?!” “Karena elo punya kantong rahim, Darling,” jawab Dina kalem. “Kantong rahim sama kayak susu Ultra. Mereka punya expired date.”
“Yeah,” sahutku sinis. “Sementara sperma kayak wine. Masih berlaku untuk jangka waktu yang lama.”

or this...

“Kenapa sih elo bisa kawin sama laki?!” Dina tergelak mendengarnya. “Hormon, Darling! Kadang-kadang kerja hormon kayak telegram. Salah ketik waktu ngirim sinyal ke otak. Mestinya horny, dia ngetik cinta!” See?? “Oh my God!” desah Kika ngeri. “Pernikahan adalah waktu yang terlalu lama untuk cinta!” Yup! That’s my reason, Darling!

kakakakak it's make me laugh widely all night long....

Wednesday, February 14, 2007

ei little mistake

….been there, did a stupid thing


dan sesuatu yang kecil, kecil sekali, bernama kesalahan akan merubah seluruh hidup kita, seluruhnya, dan itu tidak bisa dihapus, oleh waktu atau apapun perbuatan yang kita anggap baik, baik sekali.

yep, harus selalu berhati-hati, agar kesalahan yang kecil lainnya tidak lagi hadir di hidup kita.

everyone been there, but everyone have different way to make it a nightmare or take it as a lesson, unforgettable lesson.

Tuesday, January 23, 2007

If You Loose One Thing, So It's the time for Better Thing Come To Your Life


To Loose 2 things in one day is hard enouh. I need no more. (^.^)
But this time is different: it feels empty, but less emotional; I shout! but I take no tears for my eyes; it's lonely, but I don't give a dam!

"sedih ya sedih, tapi jangan terlalu sedih, ya Tin"

Wednesday, January 17, 2007

Aftér Thë Ráin


I enjoy the fields of gold feelings on my way home yesterday. It’s completed with the fresh air from the heavy pouring rain and the golden light of sun reflected in the dark smooth road, leaving the hot season behind, give some heaven in these couple dusty weeks where the temperature reach high degree above the average and take the grass in to the dry surface without water….

I smell the wet soil aroma and feel the afternoon breezing, and then I said to you:
“you see, everything will be beautiful at the time. let the momentum find you, there no need to worries now, right”
Percakapan Tiga Kota

kegembiraan di sore sehari sebelumnya,
dan kita seperti penguasa jejaring operator,
persetan dengan detik 00:59:59,
kita kembalikan keriuhan ruang maya,
lagi dan terus kembali,
ruang hasil getaran pita suara,
tidak ada makan siang yang gratis?
siapa bilang... ^.^; kita sudah membuktikannnya!

percakapan tiga kota,
membuat aku ingin kembali ke jogjakarta!
kota yang tak lagi sama, katamu
tapi tetap menyimpan berbaris-baris tanya,
retakan kenangan, pasir-pasir yang menyelip di kaki,
dan kerinduan pada aroma kayu bakar di pagi hari,

temans,
wait for me... di bulan ke delapan,
aku akan tidur lagi di kasurmu,
menikmati pecahan aquariummu,
menahan alergiku pada kapuk-kapuk kamarmu,
dan mencoba berdamai dengan wangi kamboja,
hiii... aku penakut tau....

juga,
pada saat itu aku ingin melihatmu,
keluar dari galerimu,
melakukan apa yang selama ini tertinggal,
itu kan bulan wisuda, manis,
bulan pesta pora dan jejingkrakan,
jadi kau harus hadir juga…
dengan kebayamu yang berwarna ungu,
ungu yang sama dengan matamu....


June 11, 2006

Monday, January 15, 2007

For Manut Nite Memory of Aceh Coffee



A few months ago in my visit to Jogja, I step by and drinking some glasses of coffee at “Manut Nite” near Klebengan area. That night, my old friend pick some choices of coffee for me, he insisted that I have to give a try to drink Aceh Coffee, it’s a thick and bitter coffee, but I guess it didn’t work for me, cause it makes me dizzy and sleepy (^.^) kind of out of line, since people drinking coffee to stay aware and awake.

At Manut Nite, we can have many kind coffees from around Indonesia; they have Medan Coffee, Java Coffee, Lampung Coffee, Merapi Coffee, and others. It’s a nice place to gathering with friend, it open until late or sometimes even until early morning. There, we found many groups of people who enjoy their discussion and spending hours of time.

For me that place is warmer than any coffee shops that I ever visits. That’s why when my coffee head Austrian friends came, I want to take him there, but it’s impossible, since we don’t have our agenda in Jogja, so we just stop by at Hero Dept. Store and buy some instant coffee, kakakak I hope that’s enough. Maybe latter on his country, he can have Aceh Coffee at the local Starfucks…ups Starbucks Coffee I mean (^.^)

Yup, from the news in Indonesia's Investment Coordinating Board Website, “Starbucks Corp. has signed a deal to buy coffee from Indonesia's tsunami-ravaged Aceh province, as Indonesia is the fourth-largest coffee-bean producer in the world and Aceh's fertile soil produces about 40 percent of Indonesia's premium Arabica coffee beans”. It has to be in fair price, of course!

We can also find Aceh Coffee development from The Coffee Forum Meeting last year, they have APED project (Aceh Partnerships for Economic Development) for infrastructure development, production aid, farm rehabilitation, working capital and staffing for the coffee research agency.

In being positive, hopefully these can be a good starts for Indonesian Economic Development.

Friday, January 12, 2007

Wondering on Idol Concept

It's just yesterday when my best friend hysterically talking about the expensive ticket to Jamie Cullum up coming concert. She is a total fan of Jamie Cullum and Michael Schumaker. She can crying all night long to accepting MS retired, for she already preparing the budget to go to Sepang this year in watching MS racing. Hem… for me that is totally weird and I can’t put my empathy on it—but she can crying on me still.

Until now, I’m still wondering about the idol concept, how can “everybody” surround me have their own Idol, while I’m not. In my ideal concept of Idol, it should be the one that perfect in everything, and I’m afraid we all know ‘no bodies perfect’, nothing can be anything. From then I wondering, can I have an idol? why I never have one?.

Okay, once I've been like couple of people for what they did, what their opinion or what their style, but then I saw weakness on each of them, then I get bored soon, then I turn to other things. Is it because that I always see everybody is as the same like me and else, so then I never be a fan?

For me, it’s more interesting to studying people; analyze this and that from them. There so many kinds of people out there, one is different from other, kindness in everybody and devil inside them. Analyze them is super for me.

For long time ago, this thing becomes my habit since the day I don’t remember. I do simulate people on that--bad me, kekekek, I do watching people, goggling for one attitudes theory and analyzing it. You know, it’s because I like this statement a lot:

“always see why people do things they do, not what they do”

Evermore people dynamically change, from good to bad, from bad to good, in a relativism theory of course.

People do have the joy and problem. People do sad and happy. But people can’t be a God for any kind of reason—even in God I still questioning: why and how.

Me, myself also dynamically change, once I like this, then I like something else. So, yes I don’t think I need an Idol. I think all this time, I only idolizing my self. (^.^) hihihih.

Saturday, January 06, 2007

salsa with me?



one fine morning in bulaksumur area, and we get in to a serious discussion about Uses and gratification theory.

but I didn't remember it as the morning when we be a master in Uses and gratification theory, or understand that this theory explained about the reason for people choices when they consumize the media, no I'm not (^.^) cause we're not--kakakakak this what make our tutor mad, i think.

salsa is my memory from that beautiful morning, the energetic dance from the cuban.

eventhough javanese dance stil number one in my heart,this six steps dance amaze me in celebrating my body, have fun and sexy :p

with your 1-2-3 steps which still buzing around my head, and the rainbow from sun-through-the-leaves that i kept in my mind, this day i dance again for the feeling of missing the old time dancing with you...

Sunday, November 05, 2006

am I agnostik?



Nop, I’m not.

Hanya karena aku suka lirik lagu Imágînë – nya John Lennon, bukan berarti aku lantas agnostik—tidak memilih gaya hidup keagamaan tertentu. Iya kan.

Imagine there's no Heaven It's easy if you try No hell below us
Above us only sky Imagine all the people Living for today

Memang ada suatu saat dalam hidupku, ketika aku mempertimbangkan pilihan itu, mungkin waktu itu aku sedang muak dengan pengkotak-kotakan manusia, kesal atas pembedaan antara si ini dan si itu, dan tidak habis pikir mengapa orang-orang itu meributkan hal-hal yang tidak perlu. Tapi aku tetap menginginkan wahana yang nyata untuk kegelisahanku, untuk menenangkan diri dan menfasilitasi dalam proses pencarianku.

Imagine there's no countries It isn't hard to do Nothing to kill or
die for And no religion too Imagine all the people Living life in peace

Ego, merasa kebenaran mutlak atas keyakinannya, sering kali terlihat konyol, especially ketika keyakinan itu dipaksakan menjadi keyakinan universal, tanpa melalui proses yang sama dengan proses terjadinya perbedaan yang ada sekarang. Memangnya gunung yang terbentuk selama berabad-abad bisa kembali rata hanya dalam tempo sehari dua hari. (kecuali jika Tuhan menghendaki).

Imagine no possessions I wonder if you can No need for greed or
hunger A brotherhood of man Imagine all the people Sharing all the world


Kalau seorang anak stress dan jadi korban broken home lantaran orangtuanya tidak pernah akur. Berarti Penduduk dunia sekarang juga sudah stress menjadi produk broken world lantaran pemimpin dunia yang tidak juga berhenti perang. (beberapa hari yang lalu saja 98 orang tentara AS dalam satu hari meninggal di perang Irak, hah! Itu yang memegang senjata canggih, lalu penduduk Irak sendiri berapa orang!)

Karena perang, semua orang jadi korban, gimana nggak stress. Anak broken home masih bisa ditampung di salah satu tempat rehabilitasi dan konsultasi. Lalu, kalau penduduk dunia bagaimana? Nggak mungkin kan di tampung di planet lain—setidaknya sampai saat ini.

Karena tidak ada lagi tempat untuk berlari, satu-satunya jalan ya make better our beloved world. Masih banyakkah jalan ke Roma? Hem, bagiku, salah satu jalan yang terbaik mungkin semacam terapi umat manusia untuk menuju ke arah yang lebih baik, for example terapi ”Memahami dan Dipahami.”

Seperti saat ini cahaya, aku pun sedang berusaha memahamimu, being agnostic memang jalan hidupmu sekarang. No reasons, katamu, mungkin sedang lelah ya, jadi hanya ingin menjalani saja tanpa harus sibuk menyiapkan alasan atas pilihan hidupmu. Sedangkan aku, kalau kamu balik bertanya: ya karena aku punya harapan menemukan jawaban-jawaban atas kegelisahanku dalam agamaku ini, memilikinya untuk ketenangan jiwa dan pikiran, serta sebuah petunjuk hidup yang semoga bisa membawaku ke kehidupan yang lebih baik, bisa dipahami? I hope so. Hem, mari kita saling memahami dan dipahami.

Managing Emotion



Pagi itu Eyang membaca diriku, di hadapan wajah Yesus dan putaran musik new age beliau menusukku dengan sebutan: Perempuan Pemarah. Padahal pada jam itu aku sedang menghadapnya dengan tersenyum cerah, tertawa-tawa sehabis bertemu malaikat kecilku.

Aku bertanya: "Kenapa Eyang berkata begitu?" beliau tidak menjawab, selanjutnya beliau justru membicarakan tentang indung telurku yang tidak muncul-muncul, juga soal dua tempat di rahimku yang kosong melompong dan nasehat tentang doa-doa kesuburan.

Ketika aku pamit undur diri, baru Eyang tiba-tiba berkata dengan senyum di wajahnya: "Kenapa kamu selalu marah pada semua hal adalah karena bibit dalam hidupmu, jadikan kesabaran mengalahkannya, berdoalah, sehingga pada saatnya nanti kau dapat mendidik anak-anakmu menjadi manusia yang penyabar."

Aku terdiam, tersenyum dan mengangguk. Dalam hati aku berkata dan berjanji: aku akan lebih bersabar, berlatih mengelola emosi dan mengembangkan kasihku.

Friday, October 27, 2006

Aku Ingin Mencintaimu dengan Sederhana



Apa! kamu ingin menyanyikannya sehabis akad nikah nanti?

Mengejutkan mendengarnya, meski aku tahu kata orang kamu memang romantis, tapi tanpa bukti, aku sih anggap angin lalu saja (^.^) atau... mungkin pencinta alam yang nggak bosen-bosen naik turun gunung seperti kamu memang termasuk orang romantis. Um model Soe Hok Gie lah.

Tadi malam juga ada sms masuk soal puisi SDD:"backsound: Aku Ingin mencintaimu dengan sederhana with piano & biola, ok :D" kalau itu memang sms kangen—yang sedikit romantis, tergantung suasananya—atau ihik sms yang bikin kangen maksudnya.

Hem, sejarah pertama dengar puisi ini waktu jaman sekolah dulu, jaman timik-timik... waktu itu blum hapal benar nada yang mengiringinya, karena hanya mendengarkan sesekali di radio, sampai tiba saat mati lampu bersama seorang pecinta gunung dengan petikan gitarnya, kami menyanyi, sementara kamar sebelah cerita-cerita hantu...hiiii....

Lalu, di suatu sore sehabis hujan, di bawah pohon beringin rindang depan rumah jeruk, seorang penggemar sepeda ontel yang sedang melamun di bangku batu dingin mengenalkan aku pada sebuah puisi lain: Hujan Bulan Juni, puisi mengenai gambaran perasaan paling indah yang tidak (perlu) tersampaikan…

Sejak itu banyak puisi SDD yang menemukanku, semuanya simple tapi sangat bermakna, sama halnya dengan SDD sendiri. Selepas musikalisasi puisi hujan bulan juni, sekitar dua tahun yang lalu, dari bosku, aku menikmati musikalisasi puisi lain yang indah sekali, lewat kaset. Dan ternyata setahun kemudian Dua Ibu ini muncul musikalisasi puisi SDD dalam bentuk CD, yang seperti ditulis mas Jay: dinyanyikan Dua Ibu (Reda Gaudiamo dan Tatyana) dalam album “Gadis Kecil” yang isinya 11 lagu puisi SDD.


Karena itu, di sini, untuk sebuah aroma sehabis hujan, aku sisipkan puisi SDD lain yang belum tercakup di gadis kecil (di musikalisasi lain ada siy...), yang sangat kusuka dan kukenal dari seseorang yang sekarang berada di suatu tempat di ujung dunia, yang dengan curangnya memiliki banyak kesempatan untuk menikmati cemara udang bergerak selayak bermusik ketika tertiup angin (huaah pengen… dan kangen lihat kamu makan donat pagi hari, masih suka dengerin flower of carnage pak?)

PADA SUATU PAGI HARI

Maka pada suatu pagi hari ia ingin sekali menangis sambil berjalan tunduk
sepanjang lorong itu. Ia ingin pagi itu hujan turun rintik-rintik dan lorong
sepi agar ia bisa berjalan sendiri saja sambil menangis dan tak ada orang
bertanya kenapa. Ia tidak ingin menjerit-jerit berteriak-teriak mengamuk
memecahkan cermin membakar tempat tidur. Ia hanya ingin menangis lirih saja
sambil berjalan sendiri dalam hujan rintik-rintik di lorong sepi pada suatu
pagi. (1973)
[Sapardi Djoko Damono, Hujan Bulan Juni, Jakarta: Gramedia, Cet. II, 2003, hlm. 66]



* * *
- never met someone like you -
Memahami dan Dipahami



Ketika salah satu teman kutanya soal resep paling jitu untuk kegiatan yang satu ini, dia malah menjawab: "waahh, sulit je bu, soalnya aku juga bermasalah dengan hal tersebut"

waduh, kalo hal itu jadi masalah semua orang, kenapa gak ada riset khusus ya, yang bisa bikin formula ampuh untuk masalah itu...

smile, apapun itu, kita harus selalu ingat bahwa pemahaman akan datang sesuai usaha kita untuk mencarinya. Jadi mari coba kita mulai pencarian itu…

Yang perlu diingat di sini adalah setiap orang punya kapasitas untuk mengasihi dan memahami, kita tinggal menemukannya dalam diri kita. Katanya sih, untuk menemukannya dibutuhkan suatu kesadaran penuh, total conciousness, cara ini secara teori sangat simpel untuk diucapkan, banyak sudah berbagai artikel menulis konsep tentang kesadaran ini, tapi ketika sampai tahap aplikasi, wah susah juga ya, butuh disiplin tinggi untuk tetap konsisten and stay in the line.

Kesadaran meliputi semua hal yang kita lakukan dan yang ada di sekitar kita, usaha yang sederhana (tapi selalu terlupa) misalnya seperti apa yang pernah diingatkan seorang temanku untuk bernafas dengan penuh kesadaran dan melakukan meditasi dalam setiap pekerjaan yang kita lakukan. Jadi sebenarnya kesadaran bisa dibentuk menjadi sebuah kebiasaan, wajar kalau pada awalnya masih sering melupakan, dengan terus mengingatkan diri kita, tidak ada kemustahilan untuk mencapai kesadaran itu, hiks kapan itu terjadi padaku…

Temanku itu kemudian menambahkan, mengulang yang pernah dibacanya di salah satu artikel: keseluruhan kesadaran ini adalah modal besar untuk kegiatan Memahami dan Dipahami, jika kita sadar akan apa-apa yang terjadi dalam diri kita dan yang ada di sekitar kita, kita akan dapat memusatkan perhatian dan mempermudah pengertian. Dengan begitu akan lebih mudah bagi kita untuk memahami diri kita dan orang lain, serta membuat sekeliling kita memahami kita (dipahami).

Kabarnya jika kita dapat memahami suatu hal atau seseorang, maka kita akan mampu mencintainya dengan penuh kasih, kasih yang tidak menuntut apapun dari proses mencintai itu.

Huaahhh…. how romantic, suddenly I remember that I miss u Hon!

Sunday, October 22, 2006

Love is The Way to Enjoy Your Life



Malam yang hangat, cerah dengan sedikit awan dan sedikit bintang, pohon beringin besar di ujung lapangan, pendopo desa yang nyaman, anak-anak band yang berceloteh menikmati hidup, bersama wedang ronde merah jambu, yang asapnya wangi penganan masa lampau…

Dalam keriuhan udara malam yang segar, aku tersenyum memandangi bapak tua di sampingku, termangu-mangu beliau duduk manis di atas sepeda ontelnya, memperhatikan abang wedang ronde menyatukan bahan-bahan yang terpencar di toples-toples kaca, toples-toples bentuk lama yang memantulkan cahaya sentir dengan warna jingga.

Bertompang dagu di sampingnya, aku sandarkan salah satu sikutku di permukaan kausnya yang wangi, entah oleh parfum apa, dengannya aku terus mengoceh soal cerita-cerita kehidupanku, beliau mendengarkan sambil sesekali berkomentar jika aku minta, sesekali tetap terdiam sampai aku melanjutkan cerita.

Malam itu aku kembali membonceng di belakang sepeda ontelnya yang bersih, terawat kecintaannya pada detil barang miliknya, “sudah terlalu malam” katanya, mamamu khawatir kalau kamu pulang sendiri, saat itu waktu menunjukkan hampir pukul setengah sebelas malam. Aku cuma tersenyum manyun dan protes: aku biasa pulang sendiri dari tempat kerjaku di lain kota, bahkan sampai tengah malam pun aku tidak pernah minta jemput—meski sebenarnya, pada saat itu pun, beliau berdua mamaku selalu menungguiku di perempatan jalan atau di pos satpam depan rumah. Ah, aku kerap melupakan ada yang selalu menungguku di rumah (I’m sorry, Ma, Pa).

Kali ini juga sama, aku keasikan wisata di jaring digital pada sebuah mall yang berjarak lima-sepuluh menit jalan kaki dari rumahku, jarak yang tidak seberapa, tapi sangat berpengaruh bagi beliau berdua…mungkin itulah wujud kasih mereka.

eniwei, Papa, terima kasih untuk semuanya, juga untuk selalu merawatku: menghampiriku saat aku menangis dalam diam di tempat tidur, membelaku saat aku kehilangan pertahanan, menerimaku sebagai anak perempuan satu-satunya yang keras kepala, ikut bahagia saat aku mendapatkan kesenangan hidup, membebaskanku untuk berbuat apa saja yang kumau—tanpa melupakan kejujuran dan tanggungjawab, mendukungku dengan caramu yang unik serta menjagaku dalam diammu.

Just like that night. I love you Pap.

Friday, October 20, 2006

enjoy this my friends, let this be our victory!!!

sore hari adalah dunia kita yang sebenarnya,
lontaran katamu, aku, dia dan dia, lalu satu lagi, dia
menghilangkan sesakku dalam kotak biru itu,

kita, sebagai kembara dalam robotisasi jakarta,
akhirnya terpikirkan juga untuk menikmatinya,
membuatnya dihapus dengan sore-sore kita yang romantis,

mari! kita rayakan kebekuan kita,
mari! kita habiskan jumat kita yang sakral,
lalu kita benamkan pikiran kita dalam sabtu paling biru yang pernah kita tahu,
kita tertawakan hidup ini, hingga ia pun takkan mampu menyakiti kita lagi,
hanya meninggalkan kesenangan demi kesenangan....

Jakarta, Juni 2006

Thursday, October 19, 2006

Kenanga in The Pocket

Konon, suatu hari perasaan bete singgah, masukkanlah tiga petik bunga kenanga ke kantong bajumu, blazer atau rok lipit selutut yang menyertaimu, niscaya kamu akan merasa nyaman serasa di spa. hehew mitos dari mana pula ini!

Tapi, iya tuh, berhasil untukku, nyaman karena hari ini aku dibekali beberapa petik kenanga yang diselipkan ibuku ke kantong blazer sewaktu pamit pagi tadi.

MirÄclé
Meskipun tadi berbagai kesialan berkala mampir singgah di pagiku aku tetap senang, senang, senang: Bayangkan! Dimulai dengan ketinggalan jemputan karena supir cadangan melupakan beberapa titik jemputan, yang akhirnya memaksaku (dan beberapa teman) mengejar waktu dengan kendaraan umum. Lalu, di angkutan ternyata gak bisa tidur, padahal malemnya cuma tidur 2 jam (aaaaa utang tidurku makin menumpuk, sori ya Dok). Trus saat tiba di kantor langsung ditumpuki tugas-tugas mendadak dari berbagai bos (belum juga naruh tas bos…bos…), dan Puncaknya: internet down! (aaaaa)

"Ow my God, what else could be more worse than this day” teriakku. Hehe ga bersyukur banget deh ya! but not, aku tetap merasa senang hari ini (dan semoga-hari-hari berikutnya juga, ameenn) thanks to the kenanga smell, emm I love that smell (ga peduli walau ada orang rese yang bilang aku bau kuburan! teganya!)

Kyou wa totemo ureshikute da yo!
lupakan pagi tadi yang terpaksa naik kendaraan umum, kan naik taksinya dibayarin bos kehutanan. hehew tenkyu pak! maunya sih bilang 'sering-sering aja ya bos', tapi akunya yang ga mau sering-sering naik umum he...


soal kerjaan-kerjaan mendadak, ah kerjaan satu-persatu selesai juga kok, huraw! akhirnya bisa céking-céking account internet en googling! ah… surga

trus bentar lagi pulang, yippy, ntar tidur ah di BMW (don’t disturb this beautiful lady, gals!)
internet? kan ada expert jaringan andalan setiap insan nan baik hati dan tidak pernah menolak permintaan dari berbagai kalangan yang gaptek, dialah “Akbar” the netmen (^.^) horew! horew! tenkyu ya pak, you save my internet sakau


Kenanga, bunga keriting berwarna kuning-hijau dengan wanginya yang khas.Bunga masa lalu yang semakin wangi di kala senja, cocok dengan kita, para pencinta senja, seperti senja di taman sari!

Trus adalagi neh untuk penderita sesak nafas berkala seperti aku, menurut salah satu tabloid wanita, bunga kenanga bisa jadi sahabat baik, caranya: sediakan setengah genggam bunga kenanga dan satu setengah sendok gula putih, lalu kenanga direbus dalam segelas air, dan biarkan mendidih hingga tersisa setengah gelas. saring dan minum rutin pagi-sore.

Mom, besok pagi selipkan kenanga di kantongku lagi ya.
luv u mom!